0

Kitab Kuning Kifayatul Atqiya dan Makna Pesantren

Kategori: Kitab Kuning & Makna | Dilihat: 170 Kali
Harga: Rp 28.80020%
Rp 36.000
Tambah ke Wishlist

Pemesanan Juga dapat melalui :

Whatsapp SMS Telp
Rincian Buku :
Tersedia Varian : Kitab Kuning Polos & Makna Pesant
Pengarang : Sayyid Bakar al-Ma'ruf al-Makki 
Penerbit : Hidayatut Thullab
Cover : Soft Cover (Kurasan)
Dimensi : 19 x 27 cm
Isi Kertas : Yellow paper
Jumlah Halaman : 123 Hal.
Berat : 210 Gram

 

Deskripsi Produk

Berbicara soal dunia dan aktivitas olah spiritual seakan tak pernah ada batas akhir. Tak henti-hentinya, tiap masa dan tokoh menorehkan buah pemikiran dan kesimpulan subjektif yang dihasilkan dari proses riadat berkesenimbungan.

Mulai dari karya yang berjilid-jilid ataupun tulisan ringkas berupa syarah, catatan pinggir (hawasyi), catatan akhir (hawamisy), bahkan sekadar membubuhkan komentar (ta'liq). Tetapi, tetap saja karangan-karangan itu padat, sehingga tetap menjadikan karya tersebut berbobot.

Tentunya, juga menarik disimak lebih mendalam. Barangkali, tidak berlebihan mengatakan bahwa ini satu dari sekain bukti betapa ilmu Allah sangat luas dan tak akan habis. Sekalipun, lautan dijadikan sebagai tinta menuliskan dan menuangkannya ke dalam tulisan.

"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS al-Kahfi [18]: 109).

Salah satu karya di bidang tasawuf yaitu, Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya. Satu di antara kitab berharga hasil karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi yang mensyarah kitab Hidayat al-Adzkiya' Ila Thariq al-Awliyah. Meski tak semasyhur karyanya di bidang fikih, yakni I'anatu at-Thalibin, sama sekali tak mengurangi nilai dan kualitas hasil karya itu.

Buktinya, meski ditulis dalam beberapa lembaran kertas yang tak lebih dari 200 halaman, syarah ini dilengkapi dengan beragam bahasan tentang arti ungkapan yang dirangkai dalam kasidah. Selain itu, pembahasannya disertai pula dengan penjelasan tentang susunan dasar dan kedudukan masing-masing kata dalam bait kasidah tersebut (i'rab).

Hal ini dilakukan untuk mempermudah memahami syair Arab yang terkenal memiliki susunan yang tak konstan alias berubah-ubah. Selain itu, Syekh Bakari juga menyertakan nukilan-nukilan yang disarikan dari perkataan para ulama dan ahli tasawuf. Alhasil, syarah yang ditulisnya menjadi tampak istimewa.

Kitab Hidayat sendiri merupakan sebuah kitab yang berisi tentang kasidah olah spiritual yang dikarang oleh Zainuddin bin Syekh Ali bin Syekh Ahmad al-Ma'bari.

Namun, hal terpenting yang harus ditegaskan di sini, sebagaimana ditulis Syekh Zainuddin dalam syairnya bahwa mazhab tasawuf yang digunakan sebagai acuan mengasah ketajaman rohani adalah tasawuf Suni bukan tasawuf yang melanggar ketentuan Alquran dan sunah. "Tarekat para syekh dilandasi oleh Alquran dan sunah," ujar Zainuddin.

Ungkapan ini lantas dipertegas kembali oleh pensyarah Sayid Bakari. Sekalipun corak dan metode yang digunakan oleh para syekh sufi beragam, tapi tasawuf yang mereka jalani tak keluar dari koridor sumber utama Islam, yakni Alquran dan sunah.

Fakta ini pun diperkuat dengan ungkapan yang pernah dilontarkan, bahkan oleh para punggawa tarekat secara langsung. Adalah tuan para sufi, sayyid al-thaifah, al-Junaid, menegaskan, mazhab yang benar dalam bertasawuf harus mengacu pada Alquran dan sunah.

Bahkan, ia pun meminta agar tak mengikuti para syekh tasawuf yang tidak mampu menghafal dan mengamalkan Alquran dan sunah. Menurutnya, kedua sumber tersebut merupakan panduan utama untuk bertasawuf.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Dengan jelas, ia mengatakan, mengikuti dan menaati batas-batas yang ditentukan syariat dalam bertasawuf merupakan faktor utama dalam memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya, harap dia, hendaknya para salik berhati-hati dan waspada selama proses bertasawuf ria.

Siapa pun yang mengklaim dirinya telah sampai pada puncak tertinggi tasawuf, hakikat, tetapi di saat bersamaan dia tak mengindahkan jalur-jalur syariat maka sesungguhnya jalan yang ditempuh adalah semu dan palsu. Apa pun alasannya, karena arti syariat ataupun hakikat yang sebenarnya adalah penghambaan yang haq kepada Allah.

Produk Terkait
Butuh Bantuan?