Blog Toko
Temukan event, kabar terbaru, dan promosi terbaru di sini!
Nov 16, 2020
Uraian Mbah Sholeh Darat atas Al-Hikam Ibnu Atha’illah

Bernama lengkap KH Muhammad Shalih bin ‘Umar As-Samarani atau yang kemudian dikenal dengan Mbah Sholeh Darat, adalah ulama terkemuka pada peralihan abad ke-20. Beliau merupakan maha guru para ulama besar di tanah Nusantara, seperti KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang, Pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta, Pendiri Muhammadiyah), KH Mahfuzh (Tremas), KH. Amir (Pekalongan), Kiai Idris (Surakarta), hingga Kiai Penghulu Tafsir Anom (Keraton Surakarta).


Di samping sebagai pengajar, Mbah Sholeh Darat juga dikenal sebagai penulis profilik kitab-kitab keagamaan dengan menggunakan aksara Arab dalam bahasa Jawa atau masyhur disebut Arab Pegon (billisanil jawi al-mirikiyyah). Kitab yang diterjemah dan disadur diantaranya adalah Matan Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah Al-Iskandari (1250 M-1309 M). Tujuan penulisan Arab Pegon yang dilakukan Mbah Sholeh tak lain agar dipahami kalangan awam, terlebih kitab Al-Hikam ini dikenal mengandung bahasan yang sulit, tinggi, serta mendalam.


Buku Syarah Al-Hikam ini begitu terang dalam melakukan terjemahan ke teks bahasa Indonesia. Selain itu, buku ini juga menyertakan teks asli dari tulisan Mbah Sholeh Darat (Arab Pegon), sehingga pembaca yang menguasai Jawa Arab Pegon bisa langsung melakukan kroscek apa dan bagaimana kalam yang telah Mbah Sholeh tafsiri. Karena bisa jadi hasil terjemah tidak sesuai ketika kita merujuk langsung kepada redaksi aslinya. 


Kitab Syarah Al-Hikam yang disyarahi Mbah Sholeh Darat ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi siapapun, terutama yang ingin mendalami secara lebih kajian-kajian tentang tasawuf, baik yang falsafi maupun amali. Karena di dalamnya begitu terang—baik secara eksplisit—menjelaskan tahapan-tahapan mengenai syari’at, tarekat, dan hakikat. Sehingga kalangan awam dapat mencernanya dengan baik.


Salah satu contoh kajian tasawuf, pada hikmah pertama, sebagaimana yang disusun Ibnu ‘Atha’illah menyebutkan, min ‘alamaatil i’timaadi ‘ala al-‘amal, nuqshonu ar-Raja’ ‘inda wujuudi al-zalal” (diantara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa).


Menariknya, Mbah Sholeh Darat memberikan beberapa contoh, misalnya. Bahwa amal kita di dunia ini tidak akan mampu menjamin keselamatan seseorang. Karena baik iman ataupun kufur, masuk surga atau masuk neraka, itu semua berkat fadhal (karunia) dan keadilan Allah Swt semata (hlm 3). 


Untuk memperkuat hikmah tersebut, Mbah Sholeh Darat menghadirkan kisah Pendeta Bala’am bin Ba’ura dan Qarun, keduanya merupakan orang ahli ibadah, sementara Qarun sendiri adalah ulama Bani Israil. Namun, dalam ajalnya, keduanya mati dalam keadaan kafir (tidak beriman). Sementara Sayyidah Asiyah binti Muzahim, walaupun menjadi istri Fir’aun—sebagaimana diketahui bahwa Fir’aun adalah penguasa yang zalim, mengaku sebagai Tuhan, sekaligus juga musuh utama Nabi Musa—namun, pada kenyataannya, istri Fir’aun itu menjadi kekasih Allah. Bahkan, Mbah Sholeh Darat menyebutkan Saayidah Asiyah tersebut pada akhirnya nanti akan menjadi istri Rasulullah Saw saat di surga. Selain itu masih banyak yang dicontohkan oleh Mbah Sholeh atas syarahnya kitab Al-Hikam ini. 


Meski demikian, buku Syarah Al-Hikam ini tidak secara menyeluruh mensyarahi matan Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah. Mbah Sholeh Darat hanya meringkas sekira 2/3 atau 137 pesan hikmah dari 264 hikmah. Dengan tujuan, supaya masyarakat awam lebih mudah mempelajari serta mengamalkan. 


Mbah Soleh yang juga dikenal sebagai guru RA. Kartini ini, mulai melakukan penerjemahan pada tahun 1289 H/1868 M. Walaupun dengan jarak yang relatif lama tersebut, tidak kemudian buku ini menjadi usang, tidak menarik untuk didiskusikan kembali. Justru, semakin lamanya kitab itu dikarang, semakin menarik untuk dibaca dan dikaji ulang. Lebih-lebih, ketika dihadapkan pada dunia modern saat ini.


Mengingat kitab Al-Hikam adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap realitas dunia yang terjadi saat ini. Di era globalisasi seperti sekarang, kita tidak bisa lepas dari pergaulan global yang keras, saling sikut sana-sini. Dan dunia, yang konon dapat menjauhkan diri dari Tuhan, oleh sebagian orang (terutama dari kalangan sufi), sebisa mungkin untuh dijauhi dan ditinggalkan, yakni dengan melakukan suluk zuhud (meninggalkan dunia). 


Namun, disatu sisi, masyarakat kita dituntut agar mampu bersaing di ranah kancah dunia. Umat Islam selama ini jauh tertinggal dari umat-umat yang lain, dengan alasan melakukan zuhud tadi. Hatinya tidak ingin tercampur dengan urusan duniawi. Dunia yang dapat melengahkan dan memperbudak manusia. Namun, bagi Ibnu ‘Atha’illah, profesi dan mencari dunia (sandang, pangan, dan papan) itu penting. Sebagai kendaraan (washilah) untuk menuju rasa syukur kepada Allah. Pemahaman-pemahaman seperti inilah yang perlu diluruskan, supaya umat Islam tidak gagal paham, kemudian mengasingkan diri sepenuhya kepada dunia. 


Mengutip pendapat Gus Dur, kitab Al-Hikam telah menginspirasi lahirnya nama Nahdhatul Ulama. Organisasi Islam terkemuka di dunia ini terilhami dari kalimat Ibnu ‘Atha’illah, “Lataskhab man la yunhidhuka illahhi haaluhu wa laa yadulluka ilahhi maqooluhu” (janganlah engkau jadikan sahabat atau guru orang yang amalnya tidak membangkitkan kamu kepada Allah). Kata ‘yunhidu’ yang berarti membangkitkan pada kalimat tersebut, itulah inspirasinya. Siapa lagi yang bisa membangkitkan kalau bukan para ulama (hlm xvi).


Terlepas dari itu semua, petuah-petuah hikmah dan bijak bestari yang sudah digubah oleh Ibn ‘Atha’illah, yang kemudian disyarahi Mbah Sholeh Darat ini, wajib kiranya dihadirkan kembali untuk menjaga warisan budaya dan pemikiran para pendahulu, ulama nusantara.


Sumber: https://www.nu.or.id

Produk yang Diulas :
Terjemah Syarah AL HIKAM - KH Sholeh Darat
Nov 14, 2020
Umat Islam Diminta Teladani KH Sholeh Darat dalam Berdakwah

Umat Islam harus mampu meneladani semangat dan keikhlasan almarhum KH Sholeh Darat Semarang dalam berdakwah dan mendidik masyarakat, agar memiliki ilmu dan akhlak mulia.


Wakil Mudir Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah aa-Nahdliyyah (Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Jatman), Habib Umar Muthohar mengatakan, kerja keras dan ikhlas Kiai Sholeh Darat yang tak mengenal lelah dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat membuahkan hasil yang sangat luar biasa.


“Murid-murid beliau Mbah Sholeh Darat banyak yang menjadi tokoh dan pemuka masyarakat, Kontribusinya dalam mengembangkan agama Islam di tanah air bahkan di kawasan Asia Tenggara sangat besar,” ujar Habib Umar saat memberikan taushiyah dalam haul Ke-118 KH Sholeh Darat, di komplek pemakaman umum bukit Bergota Semarang, Ahad (24/6).


Menurutnya, peran Mbah Sholeh Darat dalam pengembangan Islam melalui gerakan dakwah dan pendidikan sangat besar, karena itu sangat wajar kalau jasanya dikenang oleh para murid-murid dan keturunan para murid-murid yang pernah diasuhnya.


"Kalau bukan orang hebat, tentu sosok dan perannya tidak akan dikenang oleh generasi berikutnya. Kegiatan haul atau peringatan hari meninggalnya seorang tokoh seperti Mbah Sholeh Darat yang sudah diselenggarakan selama 100 kali lebih, menunjukkan bahwa kehadirannya sangat dirindukan oleh umat," ujarnya.


Dia menambahkan, setiap tahun menyelenggarkan haul untuk mengenang Mbah Sholeh Darat, ini berarti almarhum sangat dirindukan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Namun keirnduan itu tidak mungkin bisa dipenuhi, karena kematian itu takdir yang tidak bisa dihindari.


"Berkat kegigihannya dalam berdakwah dan mendidik masyarakat, meskipun sudah meninggal dunia, namun ajaran dan ilmunya masih diamalkan oleh para murid-muridnya, bahkan terus berkanjut hingga sekarang kendati seluruh murid-murid yang diajarnya kini juga sudah banyak yang meninggal dunia," ujar habib Umar yang pernah aktif di PW Ansor Jateng itu.


Dijelaskan, Mbah Sholeh Darat selain meninggalkan murid-muridnya yang hebat dan kelak dikemudian hari banyak yang menjadi ulama, tokoh masyarakat dan penggerak kemerdekaan RI, juga meninggalkan ilmu yang terdokumentasikan dalam kitab-kitab karangannya. Kitab-kitab itu hingga kini masih dipelajari dan dijadikan acuan oleh umat Islam dalam menjalankan ibadah. 


Dia mengingatkan kepada para pelanjut perjuangan Mbah Sholeh Darat agar waspada sehubungan dengan munculnya paham baru yang bersiifat transnasional dan bertentangan dengan cara atau atau metode Mbah Sholeh Darat dalam mengamalkan ajaran agama Islam. 


Paham baru itu, tutur Habib Umar, berpotensi menimbulkan kegaduhan, Oleh karena itu dalam upaya membendung berkembangnya pemahaman transnasional diharapkan para pelanjut ajaran Mbah Sholeh Darat tetap konsisten dengan ajaran Mbah Sholeh Darat, yakni menghadirkan Islam dengan mengedepankan ilmu dan akhlak mulia. (Samsul/Muiz) 


Sumber: https://www.nu.or.id/

Produk yang Diulas :
Kitab TAJUL ARUS Makna Pesantren - Pethuk Kediri
Kitab BULUGHUL MARAM Makna Pesantren - Pethuk Kediri