Kumpulan Penerbit / Supplier Buku Indonesia
  • Mengaji Tajul Arus Mengaji Tajul Arus Roll over image to zoom in

Mengaji Tajul Arus

Kode Produk : TK32
ISBN : 9786021687369
Penulis : Ibnu Athaillah al-Sakandari
Penerbit : Zaman
Tahun Terbit : 2015
Supplier :
X
Anda bisa klik link Supplier untuk melihat koleksi lengkap produknya
Duta Ilmu Supplier Dikirim dari Kabupaten Tuban - Jawa Timur
Kategori : Terjemah Kitab Kuning
Cover : Soft Cover
Dimensi : 15 x 23 cm
Jumlah Halaman : 528
Bahasa : Arab - Indonesia
Berat Produk : 550 gr
Stok Produk : Stok Habis Ingin Order?

Rp 90.000

Rp 81.000

Transaksi Lewat Tokopedia
Transaksi Lewat Bukalapak

Anda bisa juga menggunakan fasilitas Live Chat dan Email untuk menghubungi kami
Email

  Banyak orang sibuk memperhatikan keadaan wajahnya, memastikannya tetap bersih dan cemerlang, sehingga orang yang melihat menyukainya. Tetapi jarang seseorang yang memperhatikan keadaan hatinya. Padahal, wajah adalah objek pandangan manusia, sementara hati adalah objek pandangan Tuhan.

  Seharusnya hati kita disucikan, dihias, dibebaskan dari segala aib dan kotoran hati, sehingga Tuhan ridha ketika melihatnya. Namun, kita cenderung membiarkan keadaan hati kita, bahkan kerap mengotori dan melekatinya dengan berbagai maksiat.

Bagi seorang muslim, maksiat hati lebih berbahaya daripada maksiat tubuh. Selera raga atau tubuh mengacu kepada syahwat jasmani, seperti nikmat makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal. Sedangkan selera hati adalah syahwat immateri, seperti cinta kedudukan, jabatan, kemuliaan, pujian, dan kehormatan.

            Obat untuk menjaga kesehatan hati adalah meninggalkan semua hal duniawi, bersikap zuhud, serta berteman dengan orang-orang pilihan. Sementara, obat untuk menjaga kesehatan hati akan sulit didapatkan jika penyakit hati sudah akut. Sebab penyakit hati yang kronis tidak dapat disembuhkan oleh dokter paling ahli sekalipun.

            Dalam buku Mengaji Tajul `Arus Rujukan Utama Mendidik Jiwa yang ditulis Ibnu Athaillah (penulis Al-Hikam), disebutkan ada empat hal yang dapat membantu membeningkan hati, yaitu; banyak berzikir, banyak diam, banyak khalwat, dan mengurangi makan dan minum (hal.199).

            Ibnu Athaillah memberikan bimbingan dan nasehat kepada kita, untuk membeningkan hati dianjurkan memperbanyak berzikir atau mengingat Allah. Hati yang selalu mengingat Allah akan bergetar ketika nama-Nya disebutkan, sehingga hati menjadi lembut dan bersih dari segala kotoran hati.

            Orang yang berzikir mengingat Allah dengan lisannya tidak disebut berzikir jika hatinya tidak berzikir. Hati harus menjadi sumber zikir untuk lisan dan anggota tubuh lainnya. Lisan hanya pendukung yang menjalankan perintah hati. Berzikir dengan hati adalah berzikir yang sesungguhnya.

            Ibnu Athaillah juga menyarankan untuk tidak banyak berbicara. Karena banyak berbicara dapat menimbulkan banyak penyakit yang dapat mempengaruhi keadaan  kebeningan hati. Cara untuk selamat dari semua cacat dan penyakit hati tersebut adalah dengan diam.

            Nabi Saw. Mencela orang yang banyak bicara dengan bersabda, “orang yang paling kubenci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah yang paling buruk akhlaknya, yang banyak bicara, yang ingin menampilkan kefasihannya, serta yang membuka mulutnya lebar-lebar ketika bicara” (hal.203).

            Berkhalwat atau menyendiri merupakan salah satu obat jiwa yang juga disarankan Ibnu Athaillah. Berkhalwat berarti menjauhkan diri dari kesibukan kerja, teman, istri, dan anak-anak. Ia duduk seorang diri dalam ruangan untuk merenungkan penghambaan dan kewajibannya kepada Allah.

            Dengan penuh tawaduk ia merasa lemah di hadapan Sang pencipta, sekaligus meminta taufik supaya bisa menambah ketaatan dan menjauhi segala sesuatu yang dapat mengotori hatinya. Ia memuji Allah Swt. atas segala karunia dan keselamatan yang diberikan kepadanya.

            Terakhir, Ibnu Athaillah menganjurkan untuk mengurangi makan dan minum. Rasa lapar dapat mematahkan hasrat nafsu. Sedangkan rasa kenyang akan memicu terlaksananya hasrat nafsu. Keadaan kenyang menjadikan hati kesat, kering, suka menentang, dan menyebabkan mata lebih cepat ngantuk.

            Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan mengenai dua macam manfaat lapar. Pertama, rasa lapar akan membersihkan hati, membangkitkan tekad, dan menajamkan mata hati. Kedua, rasa lapar akan menghaluskan dan membeningkan hati. Karena hanya hati yang bening yang siap meraih nikmatnya iman (hal.205).

            Buku setebal 528 halaman ini, hadir untuk berbicara mengenai jiwa, kalbu, ruh, dan akal. Ibnu Athaillah mengajak pembaca untuk bangkit dari ketidaksadaran dengan mulai menapak jalan menuju Tuhan. Buku ini berisi petuah-petuah Ibnu Athaillah yang menginspirasi pembaca untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. (Suhairi Asyary adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Al-Ihsan Yayasan Universitas Al-Ihsan Madura/Wasathon.com)

 

Review Mengaji Tajul Arus


Produk Terkait dengan Mengaji Tajul Arus