Kumpulan Penerbit / Supplier Buku Indonesia
  • Terjemahan Al-Hikam Tangga Suci Kaum Sufi Terjemahan Al-Hikam Tangga Suci Kaum Sufi Roll over image to zoom in

Terjemahan Al-Hikam Tangga Suci Kaum Sufi

Kode Produk : TK91
Penulis : Ibnu Athaillah as-Sakandari
Penerbit : Tunggal Perkasa Press
Supplier :
X
Anda bisa klik link Supplier untuk melihat koleksi lengkap produknya
Duta Ilmu Supplier Dikirim dari Kabupaten Tuban - Jawa Timur
Kategori : Terjemah Kitab Kuning
Cover : Soft Cover
Dimensi : 14 x 20 cm
Jumlah Halaman : 231
Bahasa : Bahasa Indonesia
Berat Produk : 200 gr
Stok Produk : Stok Habis Ingin Order?
Harga Dropshipper : Rp 16.000 Info Dropship Detail

Rp 20.000

Rp 17.000

Transaksi Lewat Tokopedia
Transaksi Lewat Bukalapak

Anda bisa juga menggunakan fasilitas Live Chat dan Email untuk menghubungi kami
Email

Kitab Al-Hikam (arti bahasanya adalah jamak dari hikmah) adalah karya seorang Syaikh Ibnu Aththoillah, seorang yang karena rahmat Allah telah suci qalb/hati beliau dari penguasaan hawa nafsu, syahwat, cinta materi. Dalam beberapa untaian hikmahnya, beliau menggunakan bahasa yang menggambarkan pengalaman penyaksian mata bashirah beliau. Penglihatan bashirah ini jika diverbalkan biasanya menggunakan metafora (perumpamaan) padahal sesungguhnya dalam alam malakuthal itu adalah maujud/berwujud.

Sebaiknya ketika kita mengkaji karya-karya para ulama tashawwuf yang suci, sebisa mungkin kita mampu mengontrol pikiran kita terhadap kejahatan hawa nafsu kita, misalnya berprasangka buruk, menghakimi salah dengan tanpa ilmu, dsb. Insya Allah dengan kewaspadaan ini, Allah akan membimbing dan merahmati kita.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah dan Ustadz Salim Bahreisy, mari kita awali kajian dan renungan kita.

Hikmah no 1

- Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah
kurangnya rasa harap (kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.

Tambahan dalam buku terjemahan Al-Hikam oleh Ustadz Salim Bahreisy, di hal 10-11:

Kalimat:  Laa ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah), berarti tidak ada tempat, berlindung, berharap kecuali Allah. Tiada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, agar tetap bersandar kepada karunia rahmat Allah.

Kalimat: Laa haula wa laa quwwata illa billahi (tiada daya dan kekuatan selain Kekuatan Allah), tak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tak ada  kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu
jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"

(QS. Yunus [10]:59)

Sedang bersandar pada amal usaha sendiri itu berarti lupa pada karunia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada Iblis ketika diperintahkan bersujud kepada Adam as, ia berkata: "Aku lebih baik dari dia (Adam)"

Juga telah terjadi pada Qarun yang berkata: "Seseungguhnya aku memperoleh kekayaan ini karena ilmuku semata-mata." (QS. Al-Qashash[28]:78)

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayah dan karunia Allah.

Sedangkan kita hendaknya meneladani Nabi Sulaiman as. ketika bersyukur mendapat istana Ratu Bilqis.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang
ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(QS. An-Naml[27]:40)

Nah, sahabat-sahabat. Mari kita introspeksi diri kita sambil merenungi hikmah di atas. Semoga Allah senantiasa membimbing serta merahmati kita untuk dapat mengerti dan mengamalkannya.

Wallahu a'lam bi shawwab

Review Terjemahan Al-Hikam Tangga Suci Kaum Sufi


Produk Terkait dengan Terjemahan Al-Hikam Tangga Suci Kaum Sufi