Duta Ilmu Logo

MENELUSURI JEJAK SANG MATAHARI DARI JOMBANG: RESENSI DAN REFLEKSI PEMIKIRAN HADRATUSY SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI

20 Oktober 2026|Comments Off
MENELUSURI JEJAK SANG MATAHARI DARI JOMBANG: RESENSI DAN REFLEKSI PEMIKIRAN HADRATUSY SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI

Sejarah Indonesia tidak pernah bisa dilepaskan dari peran besar para ulama yang tidak hanya menjadi penjaga moral, tetapi juga arsitek peradaban dan pejuang kemerdekaan. Di antara deretan nama besar tersebut, sosok Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari berdiri tegak sebagai mercusuar ilmu dan pergerakan. Melalui buku bertajuk "Hadratusy Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI Al-Jombangi - Matahari dari Jombang", pembaca diajak untuk menyelami samudera kehidupan seorang tokoh yang digelari sebagai "Matahari" karena cahayanya yang mampu menembus kegelapan kebodohan dan penjajahan di tanah Jawa pada masanya.

Buku ini bukan sekadar biografi normatif. Ia adalah sebuah narasi mendalam yang menggabungkan fakta sejarah, perjalanan intelektual, hingga sisi humanis yang jarang terekspos ke publik. Penulis berhasil memotret bagaimana seorang pemuda dari Jombang bertransformasi menjadi poros ulama Nusantara yang pengaruhnya melintasi batas-batas geografis dan zaman.

Akar Silsilah dan Masa Kecil: Benih Luhur di Tanah Jombang

Perjalanan hidup KH. Hasyim Asy’ari dimulai dari desa Gedang, Jombang, pada 14 Februari 1871. Buku ini dengan detail memaparkan silsilah beliau yang bukan sembarang keturunan. Beliau lahir dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Dari garis ibu, nasab beliau tersambung hingga Raja Brawijaya VI, sementara dari garis ayah, silsilahnya mencapai Sunan Giri, salah satu Wali Songo.

Sejak kecil, Hasyim Asy’ari telah menunjukkan tanda-tanda kejeniusan dan karakter yang kuat. Tumbuh di lingkungan pesantren milik kakeknya, Kiai Usman, ia tidak hanya belajar teks-teks keagamaan, tetapi juga menyerap nilai-nilai kemandirian dan kerja keras. Buku ini menceritakan bagaimana Hasyim kecil sering membantu pekerjaan di ladang dan dapur pesantren, sebuah pengalaman yang membentuk sikap tawadhu’ (rendah hati) yang menjadi ciri khasnya di kemudian hari.

Pengembaraan Intelektual: Dari Pesantren ke Jantung Kota Makkah

Salah satu bagian paling memikat dalam buku ini adalah eksplorasi mengenai pengembaraan intelektual KH. Hasyim Asy’ari. Penulis memotret semangat "nyantri" yang luar biasa. Beliau berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa, mulai dari Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, hingga Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo.

Namun, dahaga ilmunya tidak berhenti di tanah air. Pada akhir abad ke-19, beliau bertolak ke Makkah Al-Mukarramah. Di sanalah, "Matahari dari Jombang" ini mulai bersinar terang. Di bawah bimbingan ulama-ulama besar kaliber internasional seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Mahfudz At-Tarmasi, dan Syekh Nawawi Al-Bantani, KH. Hasyim Asy’ari mendalami berbagai disiplin ilmu, terutama hadis.

Buku ini menekankan bahwa masa-masa di Makkah bukan hanya tentang menghafal kitab, melainkan juga tentang membangun jaringan ulama transnasional. Di sana pula beliau bertemu dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh seangkatan seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Narasi ini memberikan perspektif penting bagi pembaca modern tentang bagaimana akar moderasi Islam di Indonesia dibangun melalui dialog intelektual yang sehat di Tanah Suci.

Tebuireng: Membangun Peradaban di Tengah Kegelapan

Sekembalinya dari Makkah, KH. Hasyim Asy’ari tidak memilih tempat yang nyaman untuk berdakwah. Beliau justru memilih Desa Tebuireng, yang saat itu dikenal sebagai sarang maksiat, perjudian, dan kriminalitas karena pengaruh pabrik gula milik Belanda di sekitarnya.

Buku ini menggambarkan perjuangan fisik dan mental beliau dalam mendirikan Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. Awalnya, beliau hanya memiliki beberapa santri dan harus menghadapi teror dari para preman setempat. Namun, dengan ketegasan prinsip yang dibalut kelembutan akhlak, beliau berhasil mengubah wajah Tebuireng dari "zona hitam" menjadi pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Indonesia. Keberhasilan ini membuktikan bahwa peran ulama tidak hanya berada di atas mimbar, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang nyata.

Kelahiran Nahdlatul Ulama: Menjaga Tradisi, Memperkuat Bangsa

Puncak dari peran organisatoris KH. Hasyim Asy’ari adalah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926. Buku "Matahari dari Jombang" ini menjelaskan latar belakang geopolitik Islam global yang memicu berdirinya NU, termasuk runtuhnya Khilafah Turki Utsmani dan bangkitnya gerakan puritanisme di Hijaz.

Sebagai Rais Akbar pertama, KH. Hasyim Asy’ari meletakkan fondasi Qanun Asasi (prinsip dasar) NU yang menekankan pada paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Penulis buku ini dengan sangat baik menguraikan bahwa berdirinya NU bukan sekadar untuk membela tradisi lokal seperti tahlilan atau ziarah kubur, melainkan strategi besar untuk menjaga persatuan umat Islam di tengah arus modernitas dan kolonialisme. Beliau menginginkan Islam yang ramah terhadap budaya lokal namun tetap teguh pada prinsip syariat.

Sang Pejuang: Resolusi Jihad dan Kemerdekaan

Sisi heroisme KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan porsi yang signifikan dalam buku ini. Sebagai tokoh bangsa, beliau adalah sosok yang sangat ditakuti oleh penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Beliau pernah dipenjara oleh Jepang karena menolak melakukan Seikerei (penghormatan kepada kaisar Jepang dengan membungkuk ke arah matahari terbit) yang dianggapnya sebagai perbuatan syirik.

Momen paling krusial yang diangkat adalah fatwa "Resolusi Jihad" pada 22 Oktober 1945. Buku ini mendeskripsikan betapa fatwa tersebut menjadi pematik semangat nasionalisme yang luar biasa. Dengan menyatakan bahwa membela tanah air adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu), KH. Hasyim Asy’ari berhasil menggerakkan ribuan santri dan masyarakat sipil untuk melawan kembalinya tentara Sekutu. Tanpa Resolusi Jihad, peristiwa heroik 10 November di Surabaya mungkin tidak akan pernah memiliki daya ledak yang begitu dahsyat. Ini adalah bukti nyata dari jargon yang beliau populerkan: Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

Sisi Humanis dan Warisan Intelektual

Di balik ketegasannya melawan penjajah, buku ini berhasil menangkap sisi humanis KH. Hasyim Asy’ari. Beliau digambarkan sebagai sosok ayah yang penyayang, guru yang penuh perhatian kepada santrinya, dan petani yang ulet. Beliau tidak pernah bergantung pada pemberian orang lain; kemandirian ekonominya berasal dari hasil bertani dan berdagang.

Selain itu, warisan intelektual beliau berupa kitab-kitab karangannya juga dibahas secara mendalam. Salah satu yang paling fenomenal adalah Adabul ‘Alim wal Muta’allim, sebuah kitab tentang etika dalam mencari ilmu. Buku ini menjelaskan bagaimana pemikiran beliau mengenai pendidikan tetap relevan hingga hari ini, di mana pendidikan karakter (akhlak) harus didahulukan sebelum penguasaan materi pelajaran.

Islam Nusantara: Relevansi Pemikiran untuk Generasi Z

Membaca buku "Hadratusy Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI Al-Jombangi - Matahari dari Jombang" memberikan pemahaman baru mengenai konsep Islam Nusantara. Penulis menegaskan bahwa Islam Nusantara yang diperjuangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari bukanlah agama baru, melainkan cara beragama yang menghargai konteks lokal tanpa kehilangan substansi wahyu.

Bagi generasi muda, buku ini menjadi sangat penting di tengah gempuran ideologi transnasional yang seringkali mempertentangkan antara agama dan negara. KH. Hasyim Asy’ari memberikan teladan bahwa seseorang bisa menjadi Muslim yang taat sekaligus patriot yang setia pada bangsanya. "Matahari dari Jombang" ini mengajarkan bahwa Islam harus menjadi rahmat bagi sekalian alam, termasuk bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Keunggulan Narasi dan Gaya Bahasa

Dari segi teknis penulisan, buku ini patut diacungi jempol. Gaya bahasanya mengalir, tidak kaku, dan mampu membawa pembaca seolah-olah hadir dalam setiap peristiwa sejarah yang diceritakan. Penggunaan data primer dan sekunder yang kuat membuat buku ini memiliki kredibilitas tinggi sebagai referensi sejarah.

Visualisasi yang dibangun melalui deskripsi suasana Pesantren Tebuireng tempo dulu hingga ketegangan di medan perang memberikan pengalaman membaca yang imersif. Penulis tidak terjebak pada pengkultusan individu, melainkan menyajikan potret yang jujur tentang tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh sang kiai.

Kesimpulan: Cahaya yang Tak Pernah Padam

KH. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947, tepat saat beliau mendengar kabar tentang Agresi Militer Belanda I. Meskipun raganya telah tiada, "Matahari dari Jombang" ini tetap bersinar melalui jutaan santri, ribuan pesantren, dan organisasi Nahdlatul Ulama yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di dunia.

Buku ini berhasil merangkum esensi perjuangan beliau dalam satu kesatuan narasi yang utuh. Ia adalah jendela bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana Islam di Indonesia tumbuh menjadi kekuatan yang moderat, toleran, dan berwawasan kebangsaan. Pesan utama dari buku ini sangat jelas: bahwa menjaga agama dan menjaga negara adalah dua sisi dari koin yang sama.

Bagi mahasiswa, peneliti, santri, maupun masyarakat umum, buku "Hadratusy Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI Al-Jombangi - Matahari dari Jombang" adalah bacaan wajib untuk memperkaya khazanah keislaman dan keindonesiaan. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, kita membutuhkan kembali cahaya dari Jombang untuk menuntun kita menuju persatuan yang kokoh.

Sejarah bukan sekadar deretan angka dan nama, melainkan ruh yang memberi arah bagi masa depan. Melalui biografi ini, kita belajar bahwa untuk menjadi besar, seseorang harus memiliki kedalaman ilmu, ketulusan pengabdian, dan keberanian untuk berdiri tegak membela kebenaran, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau benar-benar matahari yang terbit dari Jombang, dan sinarnya akan terus menerangi Nusantara hingga akhir zaman.

#KHHasyimAsyari #NahdlatulUlama #MatahariDariJombang #SejarahIslamNusantara #PahlawanNasional

Bagikan:

Posted inLiterasi & Dunia Buku