Mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan tartil dan fasih adalah sebuah kesejukan bagi jiwa yang dahaga akan hidayah-Nya, menjadi pengingat bahwa setiap huruf yang kita ucapkan mengandung keberkahan luar biasa jika dibaca dengan aturan yang benar.
Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya di lingkungan pesantren Nusantara, ilmu tajwid menempati posisi yang sangat vital. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melisankan huruf Arab, melainkan sebuah bentuk penghormatan kepada wahyu Ilahi melalui ketepatan makhraj dan hukum bacaannya. Salah satu kitab legendaris yang telah menjadi pondasi bagi jutaan santri dalam mengenal dasar-dasar tajwid adalah Kitab Hidayatus Shibyan. Kitab yang disusun dalam bentuk nazham (syair) ini kini hadir dalam format yang lebih aksesibel melalui edisi Terjemah Hidayatus Shibyan dengan Makna Jawa Pegon dan Terjemah Indonesia.
Kitab Hidayatus Shibyan, karya Syekh Said bin Sa'ad an-Nabhani, terdiri dari sekitar 40 bait nazham yang sangat ringkas namun padat akan ilmu. Nama "Hidayatus Shibyan" sendiri secara harfiah berarti "Petunjuk bagi Anak-anak", yang menunjukkan bahwa kitab ini dirancang sedemikian rupa agar mudah dihafal dan dipahami oleh mereka yang baru memulai perjalanan menuntut ilmu agama. Dengan hadirnya edisi bilingual yang menyertakan makna Jawa Pegon dan bahasa Indonesia, proses transfer pengetahuan ini menjadi jauh lebih efektif dan menyentuh berbagai lapisan generasi.
Keistimewaan utama dari edisi ini terletak pada penggunaan makna Jawa Pegon. Bagi komunitas santri tradisional, metode "makna gandul" atau Pegon bukan sekadar alat bantu terjemah, melainkan sebuah warisan budaya intelektual yang menjaga kemurnian pemahaman teks salaf. Makna Pegon memungkinkan pembaca memahami posisi gramatikal (i'rab) dari setiap kata dalam nazham tersebut, sehingga pemahaman yang didapat tidak hanya sebatas arti kata, tetapi juga struktur bahasanya. Di sisi lain, kehadiran terjemahan bahasa Indonesia yang lugas memberikan kemudahan bagi masyarakat umum atau santri milenial yang mungkin kurang akrab dengan bahasa Jawa halus agar tetap bisa menyerap saripati ilmu tajwid di dalamnya.
Isi dari Kitab Hidayatus Shibyan mencakup kaidah-kaidah mendasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Pembahasan dimulai dengan hukum Nun Sukun dan Tanwin, yang meliputi Izhar, Idgham (Bighunnah dan Bilaghunnah), Iqlab, serta Ikhfa. Penjelasan dalam nazham ini sangat sistematis. Misalnya, saat menjelaskan tentang Izhar, nazham ini akan menyebutkan huruf-huruf tenggorokan secara berurutan, sehingga santri dapat menghafalnya dengan irama yang merdu. Pendekatan puitis ini terbukti secara psikologis lebih membekas dalam ingatan dibandingkan dengan teks prosa biasa.
Selanjutnya, kitab ini mengulas hukum Mim Sukun. Seringkali, pemula merasa kesulitan membedakan antara Ikhfa Syafawi, Idgham Mutamatsilain, dan Izhar Syafawi. Namun, dengan penjelasan yang ada dalam Hidayatus Shibyan yang diterjemahkan secara detail, keraguan tersebut dapat teratasi. Setiap bait memberikan batasan yang jelas kapan suara harus didengungkan (ghunnah) dan kapan harus dibaca jelas. Terjemahan Indonesia dalam buku ini membantu memperjelas istilah-istilah teknis tersebut dengan bahasa yang lebih modern dan mudah dicerna.
Tak kalah pentingnya adalah bab mengenai hukum Alif Lam (Al) Ta'rif, yaitu Al-Qomariyah dan Al-Syamsiyah. Meskipun terlihat sederhana, banyak pembaca Al-Qur’an yang sering keliru dalam menekankan suara 'L' pada kata-kata tertentu. Hidayatus Shibyan memberikan panduan visual melalui teks dan audial melalui hafalan baitnya tentang mana saja huruf yang termasuk kategori bulan (Qomariyah) dan matahari (Syamsiyah). Kejelasan dalam edisi terjemah ini memastikan tidak ada lagi kerancuan dalam pelafalan harian saat shalat maupun tadarus.
Bagian yang paling dinantikan dalam setiap kitab tajwid biasanya adalah pembahasan tentang Mad atau hukum pemanjangan bacaan. Hidayatus Shibyan menyederhanakan klasifikasi Mad menjadi bagian-bagian yang mudah dikelola untuk level pemula. Mulai dari Mad Thabi'i hingga berbagai cabang Mad Far'i dijelaskan dengan contoh-contoh yang relevan. Keberadaan makna Jawa Pegon di sini berfungsi sangat baik untuk menjelaskan durasi ketukan secara tradisional, sementara terjemah Indonesia memberikan konteks teoritisnya secara universal.
Selain aspek teknis, kitab ini juga mengandung adab dan doa dalam menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu tajwid diingatkan bahwa tujuan utama mempelajari aturan ini adalah untuk menjaga lisan dari kesalahan (lahn) saat membaca kitabullah. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana diperintahkan dalam surat Al-Muzzammil: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." Edisi terjemah Hidayatus Shibyan ini dengan lembut menuntun pembacanya untuk mencapai derajat tartil tersebut.
Kehadiran buku Terjemah Hidayatus Shibyan Makna Jawa Pegon & Terjemah Indonesia ini juga menjadi solusi bagi para orang tua dan pendidik di Madrasah Diniyah. Seringkali, kendala dalam mengajarkan kitab kuning adalah hambatan bahasa. Dengan adanya dua versi terjemahan sekaligus, guru dapat menggunakan bahasa Jawa Pegon untuk melestarikan tradisi pesantren, dan menggunakan bahasa Indonesia untuk memberikan penjelasan tambahan agar murid lebih cepat mengerti. Ini adalah harmonisasi antara tradisi dan modernitas dalam dunia pendidikan Islam.
Secara fisik, buku yang diterbitkan oleh penerbit lokal berkualitas ini biasanya didesain dengan tata letak yang ramah mata. Penempatan teks asli nazham di bagian atas, diikuti dengan makna Pegon di bawahnya, dan terjemahan Indonesia di bagian samping atau bawah, menciptakan struktur belajar yang terintegrasi. Hal ini sangat membantu proses visualisasi bagi mereka yang memiliki tipe belajar visual. Dengan ukuran yang biasanya praktis, kitab ini mudah dibawa ke mana saja, baik ke masjid, sekolah, maupun saat bepergian.
Mempelajari Hidayatus Shibyan adalah langkah awal yang indah sebelum melangkah ke kitab tajwid yang lebih kompleks seperti Tuhfatul Athfal atau Al-Jazariyah. Kitab ini memberikan kepercayaan diri bagi pemula bahwa ilmu tajwid tidaklah sesulit yang dibayangkan. Sebaliknya, ilmu ini adalah seni dalam memperindah interaksi kita dengan sang Pencipta melalui kalam-Nya. Setiap hukum bacaan yang kita terapkan dengan benar adalah bukti cinta kita kepada Al-Qur'an.
Sebagai penutup, memiliki dan mempelajari Kitab Terjemah Hidayatus Shibyan Makna Jawa Pegon & Terjemah Indonesia adalah investasi akhirat yang sangat berharga. Ia bukan sekadar buku pelajaran, melainkan warisan spiritual yang menghubungkan kita dengan sanad keilmuan para ulama terdahulu. Mari kita hiasi lisan kita dengan bacaan yang fasih, hati yang khusyuk, dan pemahaman yang mendalam melalui bimbingan kitab yang penuh barakah ini. Semoga setiap usaha kita dalam memperbaiki bacaan Al-Qur'an dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus.
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh edisi bilingual ini, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menunda belajar tajwid. Baik Anda seorang santri yang sedang nyantri, seorang mahasiswa, maupun orang tua yang ingin membimbing anak-anaknya di rumah, kitab ini adalah teman terbaik dalam perjalanan menuju kecintaan pada Al-Qur'an. Selamat menyelami samudra ilmu tajwid yang menyejukkan jiwa.
#IlmuTajwid #KitabSalaf #HidayatusShibyan #BelajarAlquran #PendidikanIslam

