Duta Ilmu Logo

ADAB SEBELUM ILMU: MENGKAJI KITAB ADABUL ALIM WALMUTAALLIM UNTUK GENERASI MODERN

1 Agustus 2026|Comments Off
ADAB SEBELUM ILMU: MENGKAJI KITAB ADABUL ALIM WALMUTAALLIM UNTUK GENERASI MODERN

Dalam samudera ilmu yang tak bertepi, adab adalah kompas yang menuntun pencari kebenaran agar tidak tersesat dalam kesombongan intelektual, sebuah nilai luhur yang dijaga ketat oleh para pendahulu kita. Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bukan sekadar buku teks biasa. Ia adalah sebuah wasiat ruhani yang menggarisbawahi bahwa kecerdasan tanpa akhlak hanyalah hiasan hampa. Kitab ini disusun oleh Mbah Hasyim sebagai respons atas pergeseran nilai di mana ilmu mulai dipisahkan dari etika. Melalui terjemah kitab ini, kita diajak menyelami kembali tradisi pesantren yang mengutamakan keberkahan ilmu di atas segalanya.

Memahami Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim dimulai dengan menyadari bahwa ilmu adalah cahaya ilahi yang hanya akan menetap di hati yang bersih. KH Hasyim Asy’ari membuka kitab ini dengan menekankan keutamaan ilmu dan para ulama, namun dengan segera beliau mengingatkan bahwa kemuliaan itu hanya diraih jika ilmu tersebut disertai dengan adab yang sempurna. Penekanan ini sangat krusial di era saat ini, di mana akses informasi begitu mudah namun kerendahan hati seringkali terlupakan.

Pada bab-bab awal, terjemah kitab ini menjelaskan tentang adab seorang murid atau pencari ilmu (muta'allim) terhadap dirinya sendiri. Seorang penuntut ilmu harus membersihkan hatinya dari segala kotoran seperti dendam, dengki, dan keyakinan yang salah. Niat yang tulus menjadi pondasi utama; belajar bukan untuk popularitas atau perdebatan kusir, melainkan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan mengangkat kebodohan dari diri sendiri serta orang lain. Mbah Hasyim juga menekankan pentingnya manajemen waktu dan kesederhanaan hidup, agar fokus dalam menuntut ilmu tidak terganggu oleh urusan duniawi yang berlebihan.

Selanjutnya, kitab ini mengupas secara mendalam etika seorang murid terhadap gurunya. Dalam tradisi salaf, guru bukan sekadar pemberi informasi, melainkan pembimbing ruhani. Seorang murid hendaknya memandang gurunya dengan penuh hormat dan takzim, meyakini bahwa keberkahan ilmu mengalir melalui keridhaan sang guru. Terjemah bagian ini seringkali menyentuh hati karena mengajarkan kita untuk sabar menghadapi watak guru, mendoakannya secara rutin, dan tidak lancang dalam bertanya maupun bersikap. Sikap tawadhu (rendah hati) di hadapan guru dianggap sebagai kunci pembuka gudang pengetahuan.

Tidak hanya soal interaksi antarmanusia, Adabul ‘Alim wal Muta’allim juga mengatur bagaimana seorang penuntut ilmu berinteraksi dengan instrumen ilmu itu sendiri, yaitu buku atau kitab. Adab terhadap kitab mencakup hal-hal yang mungkin terlihat sederhana namun memiliki makna spiritual yang dalam, seperti menempatkan kitab di tempat yang tinggi, tidak menyandarkan sesuatu di atas kitab, hingga menjaga kebersihan tangan saat menyentuhnya. Hal ini mencerminkan penghormatan yang tinggi terhadap ilmu yang terkandung di dalamnya. Bagi Mbah Hasyim, memperlakukan kitab dengan baik adalah bentuk syukur atas nikmat akal dan hidayah.

Bagi para pengajar atau ‘Alim, kitab ini memberikan panduan yang sangat komprehensif. Seorang guru harus menjaga kewibawaan dan kesalehannya, karena setiap tindak-tanduknya akan menjadi uswah atau teladan bagi muridnya. Dalam terjemah kitab ini, dijelaskan bahwa seorang pengajar harus memiliki sifat sabar, ikhlas dalam berbagi ilmu tanpa mengharap imbalan materi semata, dan senantiasa memperbarui ilmunya. Guru juga dituntut untuk bersikap adil kepada semua muridnya tanpa membedakan status sosial, serta menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami dan penuh kasih sayang.

Etika dalam majelis ilmu juga menjadi sorotan utama. KH Hasyim Asy’ari merumuskan bagaimana sebuah kelas atau pengajian seharusnya berlangsung. Suasana yang tenang, penuh konsentrasi, dan saling menghargai antar sesama penuntut ilmu adalah syarat terciptanya lingkungan belajar yang barakah. Larangan untuk memotong pembicaraan orang lain, berdebat tanpa dasar, atau menyombongkan diri dengan hafalan yang dimiliki adalah poin-poin penting yang ditekankan dalam kitab ini. Majelis ilmu haruslah menjadi taman surga di dunia yang menyejukkan hati siapa pun yang hadir di dalamnya.

Relevansi Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim di era digital ini sangatlah besar. Di tengah maraknya fenomena "instanisme" dalam belajar, di mana orang merasa sudah alim hanya dengan membaca potongan kutipan di media sosial, kitab ini hadir sebagai pengingat akan pentingnya proses dan sanad ilmu. Belajar memerlukan kesabaran, guru yang jelas, dan adab yang konsisten. Etika digital, seperti cara berkomunikasi dengan guru lewat pesan singkat atau cara berpendapat di ruang publik, dapat ditarik garis merahnya dari prinsip-prinsip yang tertuang dalam kitab klasik ini.

Membaca dan mengamalkan isi terjemah Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim adalah langkah awal menuju restorasi moral bangsa. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak robot-robot pintar yang hampa empati, melainkan harus melahirkan insan kamil yang berilmu luas sekaligus berbudi pekerti luhur. Dengan menjadikan adab sebagai panglima, maka ilmu yang kita miliki tidak akan menjadi bumerang, melainkan menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Mari kita kembali membuka lembaran-lembaran kuning ini dengan penuh penghayatan demi masa depan generasi yang lebih beradab.

Sebagai penutup, bimbingan akhlak mulia yang ditawarkan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam kitab ini adalah warisan tak ternilai bagi umat Islam, khususnya di Nusantara. Ia adalah jembatan yang menghubungkan antara kecerdasan intelektual dengan kemuliaan spiritual. Semoga kita semua dianugerahi kekuatan untuk terus menuntut ilmu dengan adab yang baik, sehingga ilmu kita menjadi bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama.

#AdabulAlimWalmutaallim #KHHasyimAsyari #AkhlakMulia #KitabSalaf #PendidikanIslam

Bagikan:

Posted inLiterasi & Dunia BukuPesantren & Keislaman