Dunia pesantren di Indonesia memiliki khazanah literatur yang sangat kaya, mulai dari kitab-kitab tebal (kitab kuning) yang membahas hukum Islam (fikih) hingga kitab-kitab ringkas namun padat makna yang berfokus pada pembentukan karakter. Salah satu permata dalam tradisi literasi pesantren yang paling awal dipelajari oleh para santri pemula adalah Kitab Syair ALALA. Buku "Terjemah Kitab Syair ALALA Jawa Pegon Indonesia" hadir sebagai jembatan kontemporer yang menghubungkan tradisi klasik dengan kebutuhan generasi modern, menyajikan panduan etika menuntut ilmu dalam format yang komprehensif dan mudah dipahami.
Pendahuluan: Mengapa Etika Mendahului Ilmu?
Dalam tradisi pendidikan Islam klasik, adab atau etika selalu diposisikan di atas ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebuah ungkapan masyhur dalam dunia pesantren berbunyi, "Al-Adabu Fauqal 'Ilmi"—Adab berada di atas Ilmu. Premis ini didasarkan pada pemahaman bahwa ilmu tanpa karakter hanya akan melahirkan kesombongan, sementara ilmu yang dibarengi dengan adab akan membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi sesama.
Kitab Syair ALALA bukanlah sekadar kumpulan puisi dalam bahasa Arab. Ia merupakan intisari dari kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum karya Syekh Burhanuddin az-Zarnuji yang diringkas dalam bentuk bait-bait syi'ir (nadhom) agar lebih mudah dihafal dan diresapi. Kehadiran buku "Terjemah Kitab Syair ALALA Jawa Pegon Indonesia" menjadi sangat relevan di tengah krisis moralitas pendidikan modern. Buku ini menyajikan format dwibahasa yang unik: teks asli bahasa Arab, makna "gandul" (terjemahan per kata dalam aksara Jawa Pegon), dan terjemahan naratif dalam bahasa Indonesia yang sistematis.
Mengenal Struktur dan Format Jawa Pegon
Salah satu keunggulan utama dari buku ini adalah penggunaan aksara Jawa Pegon dengan metode makna gandul. Bagi masyarakat awam, istilah "Pegon" mungkin terdengar asing. Pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya di Nusantara. Penggunaan Pegon dalam buku ini bukan sekadar upaya mempertahankan tradisi, tetapi juga sebuah metode linguistik yang sangat efektif dalam memahami tata bahasa Arab (Nahwu dan Shorof).
Metode "makna gandul" menempatkan terjemahan tepat di bawah kata-kata Arab dengan kode-kode tertentu (seperti m untuk mubtada', kh untuk khobar) yang menunjukkan fungsi sintaksis dari kata tersebut. Dengan menyertakan terjemahan bahasa Indonesia di sampingnya, buku ini memberikan aksesibilitas ganda. Santri dapat belajar mendalami struktur bahasa Arab klasik, sementara pembaca umum tetap bisa menangkap pesan moral secara langsung tanpa harus menguasai kaidah bahasa Arab yang rumit terlebih dahulu.
Enam Syarat Mencari Ilmu: Pondasi Kesuksesan Belajar
Isi utama dari Kitab ALALA dimulai dengan bait yang sangat legendaris, yang merinci enam syarat bagi seseorang agar dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Dalam buku terjemahan ini, keenam syarat tersebut dibahas secara mendalam:
Dzukauun (Kecerdasan): Buku ini menjelaskan bahwa kecerdasan yang dimaksud bukan hanya IQ yang tinggi secara bawaan, melainkan kesiapan mental untuk berpikir dan menerima informasi. Ada kecerdasan muhibun minallah (pemberian Tuhan) dan ada kecerdasan yang diusahakan melalui ketekunan.
Hirshun (Ketamakan/Semangat): Penuntut ilmu harus memiliki rasa "lapar" akan pengetahuan. Tanpa antusiasme yang membara, proses belajar akan terasa hambar dan mudah menyerah di tengah jalan.
Isthibaarun (Kesabaran): Ilmu tidak diperoleh secara instan. Kesabaran diperlukan saat menghadapi kesulitan memahami materi, menghadapi ujian, hingga kesabaran dalam menjalani proses yang panjang.
Bulghatun (Biaya/Bekal): Pendidikan memerlukan pengorbanan materi. Buku ini memberikan perspektif bahwa mengalokasikan harta untuk ilmu adalah investasi yang paling mulia.
Irsyadu Ustadzin (Petunjuk Guru): Belajar secara otodidak tanpa bimbingan guru berisiko menyesatkan. Guru berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan agar pemahaman tidak melenceng dari sanad (mata rantai) keilmuan yang benar.
Thulu Zamani (Waktu yang Lama): Tidak ada ilmu yang matang dalam waktu semalam. Proses menjadi ahli membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Pembahasan mengenai enam syarat ini dalam buku terjemahan ALALA disajikan dengan bahasa yang relevan, sehingga pembaca modern dapat mengaitkannya dengan disiplin ilmu apa pun yang sedang mereka tekuni saat ini.
Adab Terhadap Guru dan Sumber Ilmu
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam buku ini adalah pembahasan mengenai penghormatan kepada guru. Dalam filosofi ALALA, guru bukan sekadar "pengajar" (teacher), melainkan murabbi (pendidik jiwa). Buku ini menekankan bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada keridhaan seorang guru.
Bait-bait dalam ALALA mengajarkan bahwa seorang murid tidak boleh berjalan di depan gurunya, tidak boleh menduduki tempat duduk gurunya, dan tidak boleh memulai pembicaraan kecuali atas izin guru. Di era digital di mana murid sering kali merasa setara dengan guru karena akses informasi yang terbuka lebar, pesan dalam Kitab ALALA ini menjadi pengingat yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga marwah dan kehormatan tenaga pendidik. Menghormati guru adalah bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Seni Memilih Teman dalam Perjalanan Menuntut Ilmu
Manusia adalah makhluk sosial yang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya. Kitab ALALA memberikan perhatian khusus pada aspek pergaulan. Dalam terjemahan buku ini, dijelaskan secara filosofis bagaimana karakter seorang teman dapat menular layaknya penyakit.
Ada bait yang berbunyi: "Janganlah bertanya tentang kelakuan seseorang, tapi lihatlah siapa temannya. Karena setiap teman itu mengikuti apa yang dilakukan temannya." Buku ini memberikan panduan praktis bagi santri dan pelajar untuk memilih teman yang shaleh—mereka yang mengajak pada kebaikan, memotivasi untuk belajar, dan menjauhkan dari kemaksiatan. Di sisi lain, buku ini juga memperingatkan bahaya berteman dengan orang yang malas atau memiliki perangai buruk, karena hal tersebut dapat memadamkan semangat intelektual dan moral seseorang.
Keutamaan Ilmu dan Bahaya Kebodohan
Melalui narasi yang persuasif, buku "Terjemah Kitab Syair ALALA" memaparkan mengapa ilmu lebih berharga daripada harta. Harta harus dijaga oleh pemiliknya, sedangkan ilmu justru akan menjaga pemiliknya. Ilmu adalah perhiasan bagi seseorang di mana pun ia berada.
Buku ini juga menyentil realitas sosial tentang bagaimana orang berilmu akan dihormati oleh masyarakat, sementara orang bodoh hanya akan menjadi beban bagi dirinya sendiri dan orang lain. Namun, kitab ini juga mengingatkan bahwa ilmu yang paling berbahaya adalah ilmu yang tidak diamalkan. Pengetahuan tanpa penerapan adalah kesia-siaan, sementara amal tanpa dasar ilmu adalah kesalahan.
Konservasi Budaya dan Karakter Bangsa
Di luar aspek religiusnya, buku "Terjemah Kitab Syair ALALA Jawa Pegon Indonesia" memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi. Penggunaan bahasa Jawa Pegon merupakan bentuk konservasi identitas Islam Nusantara. Selama berabad-abad, Pegon menjadi alat komunikasi intelektual di Asia Tenggara, menyatukan berbagai etnis dalam satu aksara yang sama.
Dengan menerbitkan kembali kitab ini dalam format yang lebih modern, penulis dan penerbit secara tidak langsung turut menjaga warisan literasi klasik agar tidak hilang ditelan zaman. Bagi generasi muda yang mungkin lebih akrab dengan gadget daripada kitab fisik, buku ini menawarkan jembatan visual yang menarik, menggabungkan estetika kaligrafi Arab-Pegon dengan tata letak yang bersih dan terbaca.
Relevansi Kitab ALALA di Era Disrupsi
Mungkin muncul pertanyaan: Apakah kitab yang ditulis berabad-abad lalu masih relevan di era kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi informasi seperti sekarang? Jawabannya adalah: Justru sekaranglah kitab ini paling dibutuhkan.
Di era di mana informasi melimpah (infobesity), manusia seringkali kehilangan arah moral. Kita memiliki banyak informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan (wisdom). Kitab ALALA tidak mengajarkan "apa" yang harus dipikirkan, tetapi "bagaimana" seharusnya seorang penuntut ilmu bersikap. Nilai-nilai seperti kesabaran, kerja keras, dan penghormatan kepada guru adalah nilai-nilai universal yang melampaui batas waktu dan teknologi.
Buku terjemahan ini membantu mengontekstualisasikan nilai-nilai tersebut. Misalnya, dalam konteks belajar online, adab terhadap guru tetap bisa dipraktikkan dengan cara menyimak video pembelajaran dengan serius, tidak berkomentar kasar di kolom komentar, dan menghargai hak kekayaan intelektual sang guru.
Implementasi dalam Kurikulum Pendidikan
Buku ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan referensi wajib, tidak hanya di Madrasah Diniyah atau Pesantren, tetapi juga di sekolah-sekolah umum sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter. Struktur syair yang berima (nadhom) membuatnya sangat efektif untuk digunakan dalam metode menghafal (memorizing) yang menyenangkan bagi anak-anak.
Metode pengajaran bisa dilakukan dengan melantunkan syair-syair tersebut dengan lagu-lagu tradisional pesantren yang khas. Hal ini menciptakan suasana belajar yang emosional dan spiritual, sehingga pesan-pesan moral dalam Kitab ALALA tidak hanya berhenti di memori otak, tetapi juga meresap ke dalam sanubari.
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Buku "Terjemah Kitab Syair ALALA Jawa Pegon Indonesia" adalah sebuah karya kecil yang menyimpan energi besar. Ia adalah kompas bagi para pencari kebenaran, sebuah manual etika bagi mereka yang ingin menapaki tangga ilmu pengetahuan dengan cara yang diberkahi. Dengan menghadirkan teks asli, makna gandul Jawa Pegon, dan terjemahan Indonesia, buku ini berhasil menghapus sekat antara tradisi dan modernitas.
Membaca buku ini adalah sebuah perjalanan spiritual untuk kembali ke fitrah seorang pembelajar: rendah hati, tekun, dan penuh rasa hormat. Di tangan para santri, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum, buku ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara budi pekerti. Inilah kontribusi nyata literasi pesantren bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia yang religius dan beradab.
Sebagaimana bait penutup dalam banyak syi'ir kearifan, Kitab ALALA mengingatkan kita bahwa akhir dari sebuah proses belajar bukanlah gelar atau posisi sosial, melainkan transformasi diri menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat. Buku ini adalah investasi tak ternilai bagi siapa pun yang percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perbaikan adab dan penataan niat dalam mencari ilmu.
#KitabAlala #PendidikanKarakter #LiterasiPesantren #JawaPegon #AdabMenuntutIlmu

