Duta Ilmu Logo

MENELUSURI KEDALAMAN TAUHID LEWAT KITAB SABILUL ABID: MAHAKARYA KH SHOLEH DARAT AL-SAMARANI ATAS JAUHARAH AT-TAUHID

24 Agustus 2026|Comments Off
MENELUSURI KEDALAMAN TAUHID LEWAT KITAB SABILUL ABID: MAHAKARYA KH SHOLEH DARAT AL-SAMARANI ATAS JAUHARAH AT-TAUHID

Dalam konstelasi intelektual Islam di Nusantara, nama KH Sholeh Darat al-Samarani menempati posisi yang sangat luhur. Beliau bukan sekadar ulama biasa, melainkan "Guru dari para Guru" yang mencetak tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), hingga Raden Ajeng Kartini. Salah satu warisan pemikiran beliau yang paling fundamental dalam menjaga pilar akidah umat Muslim di Jawa dan Nusantara adalah kitab Sabilul Abid. Kitab ini merupakan sebuah syarah (penjelasan) sekaligus terjemahan kontekstual atas kitab legendaris Jauharah at-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani.

Melalui Sabilul Abid, KH Sholeh Darat melakukan pribumisasi Islam tanpa menghilangkan esensi kemurnian ajarannya. Ditulis dengan aksara Pegon—bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab—kitab ini menjadi saksi bisu bagaimana teologi Islam yang kompleks diterjemahkan ke dalam rasa dan logika masyarakat lokal. Artikel ini akan mengupas secara mendalam urgensi, isi, dan relevansi kitab Sabilul Abid dalam konteks penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Sosok KH Sholeh Darat: Jembatan Ilmu antara Mekkah dan Jawa

Sebelum menyelami isi Sabilul Abid, penting untuk memahami sosok di baliknya. KH Sholeh Darat lahir dengan nama Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani pada pertengahan abad ke-19. Beliau menghabiskan waktu bertahun-tahun menimba ilmu di tanah suci Mekkah, berguru kepada ulama-ulama besar dunia. Namun, sekembalinya ke tanah air, beliau tidak hanya membawa tumpukan kitab, melainkan visi untuk mencerahkan bangsa yang kala itu tengah dalam cengkeraman kolonialisme.

KH Sholeh Darat menyadari bahwa kendala utama masyarakat Jawa dalam memahami Islam adalah bahasa. Kitab-kitab standar pesantren saat itu mayoritas berbahasa Arab gundul yang sulit dijangkau oleh masyarakat awam. Oleh karena itu, beliau mempelopori penulisan kitab-kitab dalam bahasa Jawa aksara Pegon. Baginya, menyampaikan kebenaran dalam bahasa yang dimengerti audiens adalah sebuah kewajiban dakwah. Sabilul Abid lahir dari kegelisahan ini, sebuah upaya untuk membumikan konsep ketuhanan agar tidak hanya menjadi perdebatan teoretis di menara gading, tapi menjadi pondasi hidup sehari-hari.

Mengenal Jauharah at-Tauhid: Teks Sumber yang Monumental

Kitab Jauharah at-Tauhid yang menjadi objek terjemah dan penjelasan KH Sholeh Darat adalah sebuah karya berbentuk nazhom (puisi/bait-bait berirama) yang terdiri dari 144 bait. Karya Syekh Ibrahim al-Laqqani, seorang ulama besar mazhab Maliki dari Mesir, ini dikenal sebagai ringkasan paling komprehensif mengenai akidah Asy’ariyah.

Meskipun ringkas, setiap bait dalam Jauharah at-Tauhid mengandung kedalaman makna yang luar biasa, mencakup aspek ketuhanan (ilahiyyat), kenabian (nubuwwat), dan hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib serta akhirat (sam’iyyat). Namun, sifatnya yang berupa puisi Arab seringkali membuatnya sulit dipahami tanpa bantuan penjelasan tambahan. Di sinilah peran KH Sholeh Darat melalui Sabilul Abid menjadi sangat krusial. Beliau "membedah" setiap bait tersebut dan menyajikannya dalam struktur yang lebih mudah dicerna oleh nalar masyarakat Nusantara.

Anatomi Kitab Sabilul Abid: Teologi yang Humanis dan Kontekstual

Secara harfiah, Sabilul Abid berarti "Jalan bagi Sang Hamba". Judul ini mencerminkan tujuan utama penulisan kitab: membimbing seorang hamba untuk mengenal Tuhannya (Ma’rifatullah) dengan benar sehingga ia dapat meniti jalan ibadah dengan mantap.

Dalam kitab ini, KH Sholeh Darat menjelaskan konsep "Aqaid 50" yang merupakan pondasi teologi Asy’ariyah. Konsep ini terdiri dari:

  1. 20 Sifat Wajib bagi Allah: Mulai dari Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu), Baqa’ (Kekal), hingga Mutakalliman (Yang Berfirman).

  2. 20 Sifat Mustahil bagi Allah: Kebalikan dari sifat wajib.

  3. 1 Sifat Jaiz (Mungkin) bagi Allah: Bahwa Allah bebas menciptakan atau tidak menciptakan segala sesuatu.

  4. 4 Sifat Wajib bagi Rasul: Siddiq (Benar), Amanah (Dapat Dipercaya), Tabligh (Menyampaikan), dan Fathonah (Cerdas).

  5. 4 Sifat Mustahil bagi Rasul: Kebalikan dari sifat wajib rasul.

  6. 1 Sifat Jaiz bagi Rasul: Sifat-sifat manusiawi yang tidak mengurangi derajat kenabian (seperti makan, minum, dan menikah).

KH Sholeh Darat tidak sekadar mengartikan kata demi kata. Beliau memberikan analogi yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat itu. Beliau menekankan bahwa tauhid bukan sekadar hafalan, melainkan kesadaran bahwa Allah adalah penguasa mutlak alam semesta. Hal ini secara implisit juga berfungsi sebagai perlawanan terhadap mentalitas inlander yang menganggap penjajah sebagai "penguasa". Dengan mengesakan Allah, seorang Muslim di Jawa dididik untuk memiliki harga diri dan keberanian karena hanya Allah-lah yang patut ditakuti.

Aksara Pegon sebagai Identitas dan Perlawanan

Salah satu aspek yang paling menarik dari kitab Sabilul Abid adalah penggunaan aksara Pegon. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda berusaha melakukan sekularisasi dan menjauhkan masyarakat dari akar Islamnya melalui pendidikan formal yang menggunakan aksara Latin atau Jawa (Hanacaraka).

KH Sholeh Darat melihat aksara Pegon sebagai benteng budaya. Penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa memungkinkan masyarakat untuk tetap akrab dengan literatur Islam sembari memahami isinya dalam bahasa ibu mereka. Dalam konteks Sabilul Abid, Pegon menjadi jembatan intelektual. Ia membuat ilmu tauhid yang "tinggi" menjadi inklusif. Petani, pedagang, dan santri di pelosok desa dapat memahami hakikat sifat Iradat Allah atau makna Syafaat Nabi tanpa harus menjadi pakar bahasa Arab terlebih dahulu.

Pendekatan Sufistik dalam Tauhid

Berbeda dengan buku-buku tauhid modern yang kadang terasa sangat rasionalistik dan kering, Sabilul Abid mengandung nuansa spiritual yang kental. KH Sholeh Darat dikenal sebagai penganut paham bahwa syariat, tarekat, dan hakikat harus berjalan seiringan.

Dalam menjelaskan Jauharah at-Tauhid, beliau sering menyisipkan pesan-pesan moral dan tasawuf. Misalnya, ketika membahas sifat Bashar (Melihat) bagi Allah, beliau tidak hanya berhenti pada definisi filosofis, tetapi mengajak pembaca untuk selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah). Teologi dalam pandangan KH Sholeh Darat adalah alat untuk memperbaiki akhlak. Mengenal sifat-sifat Allah seharusnya membuahkan rasa rendah hati, bukan kesombongan intelektual. Inilah yang membuat Sabilul Abid terasa sangat sejuk dan mendalam.

Relevansi Sabilul Abid dalam Dunia Pesantren dan Modernitas

Hingga hari ini, Sabilul Abid masih menjadi referensi di berbagai pesantren di Jawa, terutama yang berafiliasi dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Kitab ini dianggap sebagai panduan paling otoritatif untuk memahami akidah Ahlussunnah wal Jamaah versi Nusantara.

Di tengah gempuran ideologi transnasional yang seringkali membawa paham radikal atau sebaliknya, liberalisme yang kebablasan, Sabilul Abid menawarkan jalan tengah. Ia mengajarkan moderasi dalam beragama (tawasut). KH Sholeh Darat menekankan pentingnya menggunakan akal dalam memahami dalil-dalil agama, namun tetap berpegang teguh pada wahyu dan tradisi para ulama salaf yang saleh.

Selain itu, keberadaan kitab ini dalam bentuk cetakan modern atau kajian-kajian daring di kanal media sosial menunjukkan bahwa pemikiran KH Sholeh Darat tidak lekang oleh waktu. Para peneliti sejarah Islam bahkan menjadikan kitab ini sebagai objek studi penting untuk memahami proses transmisi keilmuan dari Timur Tengah ke Nusantara.

Memahami Konsep Sam’iyyat: Masa Depan dan Akhirat

Bagian akhir dari Sabilul Abid yang mengulas tentang sam’iyyat (hal-hal yang diketahui melalui pendengaran/berita dari Nabi) sangat penting bagi pembentukan pandangan dunia (worldview) seorang Muslim. KH Sholeh Darat menjelaskan dengan sangat detail mengenai alam kubur, hari kebangkitan, mizan (timbangan amal), hingga surga dan neraka.

Beliau menjelaskan hal-hal metafisika ini dengan bahasa yang menggugah kesadaran. Tujuannya adalah agar umat tidak terlena dengan kehidupan dunia yang fana. Penjelasan mengenai hari akhir dalam Sabilul Abid berfungsi sebagai kompas moral bagi masyarakat. Di zaman kolonial, ini memberikan harapan bahwa keadilan sejati akan ditegakkan oleh Allah, meski di dunia mereka mengalami penindasan. Di zaman sekarang, ajaran ini menjadi pengingat di tengah materialisme yang merajalela bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi ukhrawi.

Sabilul Abid sebagai Warisan Literasi Nasional

Kita perlu melihat Sabilul Abid bukan hanya sebagai kitab agama, melainkan sebagai karya sastra dan literasi nasional yang luar biasa. KH Sholeh Darat telah menunjukkan kecemerlangannya dalam melakukan adaptasi bahasa. Beliau mampu memadukan kosa kata teknis Arab dengan kosa kata Jawa halus (krama inggil) secara harmonis.

Karya ini adalah bukti bahwa Islam tidak pernah menghancurkan budaya lokal, melainkan memperkayanya. Melalui Sabilul Abid, bahasa Jawa mengalami "Islamisasi" dalam hal peristilahan teologis, dan sebaliknya, konsep-konsep Islam mengalami "Jawanisasi" dalam hal penyampaian agar lebih merasuk ke dalam sukma masyarakat. Ini adalah contoh nyata dari Islam Nusantara yang santun, cerdas, dan mendalam.

Kesimpulan

Buku Terjemah Sabilul Abid Ala Jauharah at-Tauhid karya KH Sholeh Darat adalah sebuah monumen intelektual yang sangat berharga. Ia bukan sekadar buku pelajaran tauhid, melainkan sebuah panduan hidup yang menyatukan kecerdasan akal dengan kesucian hati. Melalui aksara Pegon dan bahasa Jawa yang khas, KH Sholeh Darat telah berhasil menyederhanakan kompleksitas ilmu kalam menjadi asupan rohani yang menguatkan iman masyarakat awam hingga para ulama.

Bagi generasi Muslim saat ini, mengkaji kembali Sabilul Abid berarti menyambung sanad keilmuan dengan para leluhur ulama Nusantara. Ia adalah pengingat bahwa akidah yang kokoh adalah modal utama dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan memahami sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya secara mendalam sebagaimana yang diuraikan oleh Mbah Sholeh Darat, kita diajak untuk menjadi pribadi yang teguh dalam prinsip, namun tetap santun dan bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.

Warisan KH Sholeh Darat ini akan terus abadi selama pesantren-pesantren masih mendengungkan bait-bait Jauharah at-Tauhid dan selama umat Muslim masih haus akan air kebenaran yang bersumber dari kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Sabilul Abid adalah cahaya yang akan terus menerangi jalan bagi setiap hamba yang rindu untuk mengenal Penciptanya dengan sebenar-benarnya pengenalan.

#KHSholehDarat #SabilulAbid #JauharahAtTauhid #TauhidAswaja #IslamNusantara

Bagikan:

Posted inPesantren & Keislaman