Shalat merupakan tiang agama, sebuah ibadah fundamental yang menjadi pembeda antara seorang Muslim dengan yang lainnya. Dalam praktiknya, umat Islam di seluruh dunia mengikuti berbagai madzhab fikih yang bersumber dari ijtihad para ulama besar. Di Indonesia, mayoritas umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU), mengikuti metodologi pemikiran Imam Syafi'i. Untuk memastikan ibadah tersebut dijalankan dengan benar dan memiliki landasan hukum yang kuat, hadirlah buku "Tuntunan Shalat Untuk Warga NU dan Dalil-Dalilnya".
Buku ini bukan sekadar buku panduan teknis biasa. Ia adalah sebuah manifestasi dari komitmen warga Nahdliyin untuk menjaga tradisi amaliyah yang bersumber dari sanad yang muttasil (bersambung) hingga Rasulullah SAW. Artikel ini akan mengulas secara mendalam isi buku tersebut, mengapa dalil menjadi sangat penting, dan bagaimana setiap gerakan serta bacaan shalat warga NU memiliki akar yang kokoh dalam Al-Qur'an dan Hadis.
Pentingnya Sanad dan Dalil dalam Ibadah Shalat
Bagi warga NU, menjalankan ibadah tidak cukup hanya dengan "yang penting ikhlas". Keabsahan sebuah ibadah sangat bergantung pada kesesuaiannya dengan syariat yang telah dirumuskan oleh para ulama mujtahid. Buku "Tuntunan Shalat Untuk Warga NU dan Dalil-Dalilnya" hadir untuk menjawab tantangan zaman di mana sering kali praktik ibadah warga NU dipertanyakan keabsahannya oleh kelompok lain yang memiliki pemahaman berbeda.
Penyertaan dalil-dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) dalam buku ini bertujuan untuk memberikan ketenangan batin bagi jamaah. Dengan mengetahui bahwa doa Qunut, pelafalan niat (usholli), hingga zikir jahr (bersuara) memiliki landasan hadis yang shahih atau hasan, seorang mukmin akan lebih mantap dalam beribadah. Ini adalah edukasi bagi publik bahwa amaliyah NU bukanlah bid’ah, melainkan praktik yang sangat menjaga orisinalitas ajaran Nabi Muhammad SAW melalui kacamata madzhab Syafi'i.
Memulai Shalat: Antara Niat, Hati, dan Lisan
Salah satu ciri khas yang dibahas secara mendalam dalam buku ini adalah mengenai niat. Dalam madzhab Syafi'i, niat bertempat di dalam hati. Namun, melafalkan niat (talaffudz bin-niyah) sebelum takbiratul ihram hukumnya adalah sunnah untuk membantu lisan menuntun hati agar lebih fokus (khusyuk).
Buku ini menjelaskan dalil-dalil yang mendukung praktik "Usholli". Meskipun secara tekstual perintah melafalkan "Usholli" tidak ditemukan dalam satu hadis tunggal yang spesifik, para ulama NU menggunakan metode qiyas (analogi) dengan ibadah haji di mana Rasulullah SAW melafalkan niat ihramnya. Selain itu, tuntunan dalam buku ini merinci niat untuk berbagai jenis shalat, mulai dari shalat fardu lima waktu, shalat Jumat, hingga shalat-shalat sunnah seperti Rawatib, Tahajud, dan Dhuha.
Tata Cara Shalat: Estetika dan Ketentuan Fikih
Buku ini membimbing pembaca melalui setiap rukun shalat dengan sangat detail. Mulai dari Takbiratul Ihram, posisi tangan saat bersedekap, hingga arah pandangan mata.
1. Takbiratul Ihram dan Iftitah Warga NU diajarkan untuk mengangkat tangan sejajar dengan telinga atau bahu saat takbir, mencerminkan ketundukan total kepada Allah. Setelah itu, membaca doa Iftitah. Buku ini menyertakan redaksi doa Iftitah yang umum digunakan di kalangan pesantren ("Wajjahtu wajhiya..."), lengkap dengan dalil riwayat Imam Muslim.
2. Membaca Al-Fatihah dan Basmalah Dalam madzhab Syafi'i, Basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Oleh karena itu, warga NU membacanya secara keras (jahr) dalam shalat-shalat jahr (Maghrib, Isya, Subuh). Buku ini mengutip hadis-hadis yang memperkuat posisi Basmalah sebagai ayat pertama Al-Fatihah, memberikan dasar hukum yang kuat mengapa "Bismillahirrahmanirrahim" tidak boleh dilewatkan.
3. Gerakan Ruku’ dan Sujud Kesempurnaan shalat terletak pada tuma'ninah (diam sejenak). Buku ini menekankan pentingnya posisi punggung yang rata saat ruku' dan tujuh anggota badan yang harus menempel saat sujud. Setiap bacaan tasbih dalam gerakan ini dijelaskan maknanya, sehingga pembaca tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga meresapi zikir tersebut.
Qunut Subuh: Identitas dan Dalilnya
Bagian yang paling krusial dan sering menjadi pembahasan hangat adalah doa Qunut pada rakaat kedua shalat Subuh. Buku ini mendedikasikan ruang khusus untuk menjelaskan mengapa warga NU tetap istiqamah menjalankan Qunut.
Dalil utama yang digunakan adalah hadis riwayat Anas bin Malik RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW senantiasa melakukan Qunut dalam shalat Subuh sampai beliau meninggal dunia. Buku ini juga menjelaskan klasifikasi Qunut sebagai Sunnah Ab'ad, yang jika terlupa, disunnahkan untuk menggantinya dengan Sujud Sahwi. Penjelasan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman fikih yang komprehensif agar warga NU tidak ragu menghadapi perbedaan pendapat yang ada.
Tashahhud dan Duduk Tawarruk vs Iftirasy
Perbedaan posisi duduk antara rakaat kedua (Tashahhud Awal) dan rakaat terakhir (Tashahhud Akhir) dijelaskan dengan sangat rinci. Warga NU mengikuti pendapat yang membedakan posisi duduk tersebut (Iftirasy untuk awal, Tawarruk untuk akhir). Buku ini juga menjelaskan detail kecil seperti posisi telunjuk saat membaca "Illallah" sebagai simbol ketauhidan, yang didukung oleh riwayat-riwayat hadis yang muktabar.
Zikir dan Doa Setelah Shalat: Tradisi yang Menyejukkan
Buku "Tuntunan Shalat Untuk Warga NU" tidak berhenti pada salam. Ia melanjutkan bimbingannya pada rangkaian zikir dan doa setelah shalat. Di kalangan NU, zikir setelah shalat sering dilakukan secara berjamaah dan dengan suara yang jelas (jahr).
Buku ini memberikan dalil dari hadis riwayat Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa suara zikir orang-orang setelah shalat fardu di zaman Nabi terdengar hingga keluar masjid. Hal ini menjadi legitimasi kuat bagi tradisi istighosah, tahlil, dan doa bersama yang menjadi ciri khas kaum Nahdliyin. Rangkaian doa yang disusun dalam buku ini mencakup permohonan keselamatan dunia akhirat, doa untuk orang tua, dan doa untuk bangsa, yang semuanya disusun dengan bahasa yang puitis namun syar'i.
Keunggulan Buku: Bahasa yang Mudah dan Layout yang Sistematis
Selain kontennya yang kaya akan dalil, keunggulan utama dari buku tuntunan ini adalah aksesibilitasnya. Penulis buku ini menyadari bahwa audiensnya sangat beragam, mulai dari santri di pesantren, pelajar di sekolah umum, hingga mualaf yang baru belajar shalat.
Transliterasi Latin: Untuk membantu mereka yang belum lancar membaca huruf hijaiyah, setiap bacaan biasanya disertai dengan teks latin.
Terjemahan: Memahami arti bacaan shalat adalah kunci kekhusyukan. Buku ini menyajikan terjemahan yang akurat untuk setiap doa.
Ilustrasi Visual: Beberapa versi buku ini dilengkapi dengan gambar atau ilustrasi posisi tubuh yang benar, sehingga meminimalisir kesalahan dalam mempraktikkan gerakan shalat.
Mengapa Buku Ini Relevan untuk Generasi Muda?
Di era digital, tantangan terhadap amaliyah tradisional semakin besar. Banyak konten di media sosial yang mencoba menggoyahkan praktik ibadah yang sudah turun-temurun dengan narasi "kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah" namun dengan penafsiran yang sempit.
Buku "Tuntunan Shalat Untuk Warga NU dan Dalil-Dalilnya" hadir sebagai perisai intelektual bagi generasi muda NU. Dengan membaca buku ini, pemuda Nahdliyin tidak hanya tahu bagaimana cara shalat, tapi juga tahu mengapa mereka melakukannya dengan cara tersebut. Ini membangun kepercayaan diri (izzah) sebagai pengikut manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah yang moderat namun tetap berpegang teguh pada dalil yang otentik.
Shalat sebagai Sarana Pendidikan Karakter
Dalam perspektif NU, shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga sarana pembentukan karakter atau akhlakul karimah. Buku ini menyelipkan pesan-pesan moral bahwa shalat yang benar harus mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Kedisiplinan dalam waktu shalat, kebersihan dalam wudhu, dan kerendahan hati dalam sujud adalah cerminan dari karakter warga NU yang tawadhu dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Metodologi Fikih Empat Madzhab
Meskipun fokus utama adalah madzhab Syafi'i, buku ini sesekali memberikan wawasan tentang perbandingan madzhab secara ringan untuk menunjukkan keluasan ilmu Islam. Hal ini mendidik warga NU untuk menjadi pribadi yang toleran (tasamuh) terhadap perbedaan cara shalat umat Islam lainnya, selama masih dalam koridor empat madzhab yang diakui. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar NU yaitu Tawassut (moderat), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (tegak lurus).
Kesimpulan: Menjaga Warisan, Memperkuat Iman
Buku "Tuntunan Shalat Untuk Warga NU dan Dalil-Dalilnya" adalah referensi wajib bagi setiap keluarga Nahdliyin. Ia berfungsi sebagai jembatan antara teks-teks klasik kitab kuning yang dipelajari di pesantren dengan kebutuhan praktis masyarakat modern. Dengan menyandingkan tata cara ibadah dan dalil-dalilnya, buku ini membuktikan bahwa tradisi NU adalah tradisi yang ilmiah, memiliki dasar yang kokoh, dan tidak bertentangan dengan sunnah Nabi SAW.
Ibadah shalat adalah investasi akhirat yang paling utama. Melalui panduan yang tepat, diharapkan kualitas shalat kita meningkat dari sekadar rutinitas fisik menjadi pertemuan spiritual yang mendalam dengan Sang Pencipta. Buku ini adalah penuntun jalan bagi siapa saja yang ingin menjalankan shalat dengan penuh keyakinan, keilmuan, dan kekhusyukan sesuai dengan nafas Ahlussunnah wal Jama'ah.
Dengan memiliki dan mempelajari buku ini, warga NU diharapkan dapat terus melestarikan warisan para ulama pendahulu, sekaligus menjadi benteng bagi kemurnian ajaran Islam di Nusantara. Shalat yang benar bukan hanya tentang gerakan yang sempurna, tetapi tentang hati yang tersambung pada dalil yang benar dan niat yang tulus karena Allah SWT semata.
#ShalatNU #TuntunanShalat #Aswaja #AmaliyahNU #FikihSyafii #NahdlatulUlama #DalilShalat

