Dinamika pemikiran Islam di Indonesia selalu menghadirkan diskursus yang menarik, terutama ketika bersinggungan dengan dialektika antara tradisi lokal dan arus puritanisme global. Di tengah gelombang tersebut, muncul sebuah karya literatur yang menjadi rujukan krusial bagi warga Nahdliyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama), yakni buku bertajuk "Wahabi Menuduh Santri Menjawab". Buku ini bukan sekadar kumpulan teks debat, melainkan sebuah manifestasi dari ketahanan intelektual kaum santri dalam mempertahankan amaliyah atau praktik keagamaan yang telah berakar kuat di Nusantara. Melalui pendekatan yang sistematis dan berbasis dalil yang kokoh, buku ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan umat terhadap tuduhan-tuduhan bid’ah, syirik, dan khurafat yang sering dilontarkan oleh kelompok puritan.
Latar Belakang: Benturan Paradigma Keagamaan
Untuk memahami urgensi buku ini, kita perlu melihat peta sosiologi agama di Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, konsisten mengusung paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang bercirikan tawasut (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran). Karakteristik ini memungkinkan NU untuk menyerap budaya lokal dan menjadikannya sarana dakwah, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat.
Namun, di sisi lain, muncul gerakan puritanisme yang sering diidentikkan dengan paham Wahabi atau Salafi ekstrem. Gerakan ini memiliki kecenderungan untuk melakukan simplifikasi terhadap ajaran agama dengan slogan "kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" secara tekstual. Dampaknya, banyak tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun oleh para ulama salaf di Nusantara dianggap sebagai penyimpangan. Fenomena "mudah membid'ahkan" inilah yang memicu lahirnya buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab".
Membedah Tuduhan: Dialektika Bid'ah dan Sunnah
Salah satu inti perdebatan yang dibedah dalam buku ini adalah konsep bid'ah. Dalam perspektif kelompok puritan, setiap hal baru yang tidak dilakukan secara eksplisit oleh Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai bid'ah dhalalah (kesesatan) yang berujung pada neraka. Mereka menggunakan hadis "kullu bid'atin dhalalah" secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteks silsilah keilmuan yang lebih luas.
Sebaliknya, melalui buku ini, para santri memberikan penjelasan komprehensif mengenai klasifikasi bid'ah. Merujuk pada pemikiran Imam Syafi'i dan ulama besar lainnya, bid'ah dibagi menjadi dua: bid’ah mahmudah (terpuji) atau bid’ah hasanah, dan bid’ah madzmumah (tercela). Buku ini menjelaskan bahwa amaliyah NU seperti tahlilan atau maulidan dikategorikan sebagai bid'ah hasanah karena secara substansi mengandung pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dzikir, selawat, dan sedekah—semuanya memiliki landasan umum dalam Islam.
Pembelaan Terhadap Amaliyah Khas NU
Buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab" memfokuskan pembahasannya pada beberapa titik krusial yang sering menjadi sasaran kritik. Berikut adalah bedah mendalam atas beberapa amaliyah tersebut:
1. Tahlilan dan Kirim Doa (Isalul Thawab)
Tuduhan yang sering muncul adalah bahwa mengirim doa untuk orang mati tidak akan sampai pahalanya dan merupakan tradisi Hindu-Budha yang diislamkan. Buku ini menjawabnya dengan menyertakan dalil-dalil kuat dari hadis dan pendapat para imam mazhab tentang Isalul Thawab (sampainya pahala amal kepada mayit). Penjelasan mengenai sedekah atas nama orang yang meninggal dan pembacaan Al-Qur'an dipaparkan dengan sangat rinci, membuktikan bahwa tradisi ini memiliki legitimasi syar'i yang kuat dalam tradisi ulama salafush shalih.
2. Ziarah Kubur dan Tawassul
Ziarah kubur sering dituduh sebagai bentuk penyembahan berhala baru atau syirik. Buku ini meluruskan bahwa ziarah kubur bagi warga NU adalah sarana pengingat kematian (dzikrul maut) dan bentuk penghormatan kepada para wali dan ulama. Mengenai tawassul (berdoa kepada Allah melalui perantara orang saleh), santri menjelaskan bahwa perantara tersebut bukanlah tujuan sembah, melainkan wasilah yang dibenarkan berdasarkan dalil-dalil dari para sahabat nabi. Ini adalah titik di mana tauhid dan penghormatan kepada kekasih Allah bertemu secara harmonis.
3. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Bagi kelompok puritan, Maulid Nabi dianggap bid'ah karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sendiri. Namun, buku ini memberikan argumentasi cerdas bahwa Maulid adalah bentuk syukur dan ekspresi cinta (mahabbah) kepada Rasulullah. Mengutip pendapat Ibnu Taimiyah (yang sering menjadi rujukan Wahabi sendiri) dalam kitab Iqtidha’ al-Sirath al-Mustaqim, terdapat pengakuan bahwa orang yang merayakan Maulid dengan niat mengagungkan Rasulullah akan mendapatkan pahala besar karena kecintaannya. Hal ini menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya menggunakan dalil internal NU, tetapi juga menggunakan argumen dari tokoh yang dihormati lawan bicaranya untuk membangun titik temu intelektual.
Metodologi Santri: Antara Dalil Naqli dan Aqli
Keunggulan utama buku ini terletak pada metodologinya. Penulis tidak menjawab tuduhan dengan emosi, melainkan dengan dua pilar utama: Dalil Naqli (Al-Qur'an, Hadis, Atsar Sahabat) dan Dalil Aqli (Logika Akal).
Dalam aspek Naqli, buku ini menunjukkan kekayaan literatur pesantren. Referensi yang diambil bukan hanya potongan ayat, melainkan juga penjelasan (syarah) dari kitab-kitab muktabar (diakui) dalam empat mazhab. Ini membuktikan bahwa posisi santri NU bukanlah posisi yang mengada-ada, melainkan posisi yang melanjutkan estafet keilmuan para ulama terdahulu.
Dalam aspek Aqli, buku ini mengajak pembaca untuk berpikir jernih. Misalnya, jika setiap alat atau metode yang tidak ada pada zaman Nabi dianggap bid'ah, maka penggunaan mikrofon untuk azan atau pengumpulan Al-Qur'an dalam satu mushaf juga seharusnya dilarang. Logika-logika sederhana namun tajam ini sangat efektif dalam meruntuhkan argumentasi kaum puritan yang seringkali tidak konsisten dalam menerapkan konsep bid'ah.
Simbol Pelestarian Islam Nusantara
Di luar perdebatan teologis, buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab" memegang peranan penting dalam pelestarian identitas budaya Islam di Indonesia atau yang populer dengan istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah agama baru, melainkan cara berislam yang menghargai konteks lokal.
Amaliyah NU merupakan jembatan yang menyatukan nilai-nilai langit dengan tradisi bumi. Tahlilan, misalnya, menjadi ruang sosial di mana masyarakat berkumpul, mempererat silaturahmi, dan saling membantu. Jika tradisi ini dihilangkan atas nama puritanisme, maka kohesi sosial di tingkat akar rumput juga berisiko rapuh. Buku ini menyadari hal tersebut dan memposisikan amaliyah sebagai benteng terakhir pertahanan budaya bangsa dari serbuan ideologi transnasional yang cenderung kaku dan tidak akomodatif terhadap lokalitas.
Peran Santri sebagai Penjaga Gawang Intelektual
Judul buku yang menekankan kata "Santri Menjawab" memberikan pesan simbolis bahwa kaum santri adalah pewaris sah otoritas keagamaan di Nusantara. Santri, dengan bekal penguasaan tata bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, Balaghah) dan disiplin ilmu ushul fiqh, memiliki kapasitas untuk melakukan istinbath (penggalian hukum) yang mendalam.
Karya ini juga menjadi edukasi bagi generasi muda NU agar tidak rendah diri (inferior) saat menghadapi serangan narasi di media sosial. Di era digital, di mana konten-konten pendek seringkali digunakan untuk menghakimi praktik ibadah orang lain, buku ini memberikan "amunisi" intelektual agar warga Nahdliyin tetap percaya diri dan teguh dalam menjalankan amaliyahnya. Ini adalah bentuk moderasi beragama (wasathiyah) yang nyata, di mana seseorang teguh pada keyakinannya namun tetap mampu berargumen secara sehat dan ilmiah.
Relevansi di Tengah Arus Informasi
Dunia saat ini sedang menghadapi krisis otoritas. Siapa pun bisa berbicara tentang agama di internet tanpa latar belakang pendidikan yang jelas. Kelompok puritan seringkali memanfaatkan celah ini dengan narasi yang terlihat "murni" namun sebenarnya dangkal secara epistemologi.
Buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab" hadir sebagai penyeimbang. Ia menawarkan kedalaman di tengah kedangkalan. Ia mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat kulit luar, tetapi juga isi dari sebuah ibadah. Keberadaan buku ini sangat relevan untuk menjaga stabilitas sosial-keagamaan di Indonesia. Dengan adanya pemahaman yang benar, potensi konflik horizontal akibat perbedaan cara ibadah dapat diminimalisir. Umat diajak untuk saling menghormati (khilafiyah) daripada saling menyesatkan.
Kritik dan Tantangan Kedepan
Meskipun buku ini sangat komprehensif, tantangan ke depan tetap besar. Kelompok puritan terus bertransformasi menggunakan media visual dan strategi komunikasi yang lebih modern. Oleh karena itu, substansi dalam buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab" perlu terus didiseminasi dalam berbagai format, seperti infografis, video pendek, atau kajian-kajian daring yang interaktif.
Selain itu, literasi keagamaan yang ditawarkan buku ini harus diimbangi dengan sikap santun yang menjadi ciri khas santri. Menjawab tuduhan tidak berarti harus menyerang balik dengan kebencian. Sebagaimana dicontohkan dalam buku tersebut, jawaban harus diberikan dengan hikmah (wisdom) dan argumen yang memuaskan akal serta menyejukkan hati.
Kesimpulan: Mengukuhkan Iman, Menjaga Tradisi
Buku "Wahabi Menuduh Santri Menjawab" adalah sebuah mahakarya literatur pembelaan agama yang sangat penting dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Ia berfungsi lebih dari sekadar buku bantahan; ia adalah panduan teologis, benteng intelektual, dan simbol ketahanan budaya.
Melalui buku ini, kita belajar bahwa mencintai tradisi bukan berarti anti-kemajuan, dan menjalankan amaliyah warisan ulama bukan berarti tidak berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah. Sebaliknya, amaliyah NU adalah cara yang sangat metodis untuk membumikan ajaran langit ke dalam relung budaya manusia. Buku ini membuktikan bahwa Islam Nusantara yang moderat memiliki akar keilmuan yang sangat dalam dan tak tergoyahkan.
Bagi setiap warga Nahdliyin, santri, akademisi, maupun masyarakat umum yang ingin memahami mengapa Islam di Indonesia begitu damai namun tetap kuat memegang prinsip, buku ini adalah bacaan wajib. Dengan membacanya, kita tidak hanya mendapatkan jawaban atas tuduhan, tetapi juga semakin bangga akan kekayaan intelektual dan spiritual yang diwariskan oleh para kiai dan masyayikh Nusantara. Melestarikan amaliyah NU melalui jawaban-jawaban yang mencerahkan adalah langkah nyata dalam menjaga kedaulatan paham Ahlussunnah wal Jama'ah di bumi pertiwi.
#AmaliyahNU #WahabiMenuduhSantriMenjawab #AhlussunnahWalJamaah #IslamNusantara #NahdlatulUlama

